ARTIKEL

Arsitektur Bisnis untuk Transformasi Teknologi Kesehatan Indonesia

­čĽÉ Baca 4 menit

Arsitektur bisnis menjadi salah satu bagian dari enterprise architecture yang juga pernah bahas Mejadokter.com tulis pada artikel sebelumnya. Arsitektur bisnis akan membahas lebih dalam yang bisa melakukan pemetaan secara efisien dan efektif dari sudut pandang bisnis dan teknologi.

Pembuatan dari arsitektur bisnis bisa dengan beberapa metode pendekatan yang dilakukan, yaitu dengan memetakan semua aplikasi yang terdapat di dalam internal Kementerian Kesehatan dan mengelompokkan berdasarkan fungsi masing-masing.

Setelah dipetakan secara keseluruhan, aplikasi akan dikelompokkan kembali berdasarkan layanan yang terdapat di Kementerian Kesehatan.

Hal ini punya tujuan supaya bisa mengetahui existing applications yang saling tumpang tindih atau punya fungsi layanan yang serupa. Tujuan dari platform ini adalah untuk membuat sebuah inovasi, simplifikasi dan kombinasi dari sejumlah fungsi yang ada.

Pendekatan metode yang kedua adalah dengan in-depth interview. Cara ini biasanya dilakukan dengan cara mengundang para ahli dari masing-masing layanan Kemenkes.

Manfaat dari metodei ini adalah untuk membuat rumusan baru tentang masalah-masalah yang telah terjadi di setiap layanan Kemenkes.

Menurut masalah yang ada nantinya aakn dirumuskan sejumlah potensi-potensi yang bisa dilakukan unutk efisiensi, adapun salah satunya adalah mengenai simplifikasi atas pelayanan basis.

Selain itu juga metode ini dipercaya bisa menghasilkan harapan dari para ahli untuk pelayanan yang tersedia supaya bisa menjadi sebuah terobosan atau inovasi yang baru.

Pendekatan metode yang ketiga adalah pendekatan secara legal. Arsitektur bisnis yang dibuat dengan cara melihat peraturan Undang-undang ataupun Peraturan Menteri Kesehatan yang berlaku.

Salah satu contoh yaitu tentang Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Kebutuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Peraturan ini adalah tentang proses layanan primer yang bisa berfungsi untuk memberi pelayanan ibu hamil, lansia dan juga pelayanan balita. Hal ini menjadi dasar untuk bisa merumuskan proses bisnis dari pelayanan.

Diagram Value Chain

Arsitektur Bisnis punya dua fungsi, yaitu utama dan pendukung. Adapun diantaranya adalah sebagai berikut:

Fungsi Utama

a. Layanan Primer

  • Upaya Kesehatan Perseorangan
  • Upaya Kesehatan Masyarakat
  • Manajemen Fasyankes
  • Analisis dan Mapping

b. Layanan Sekunder

  • Upaya Kesehatan Perseorangan
  • Manajemen Fasyankes
  • Analisis dan Mapping
  • c. Ketahanan Kesehatan
  • Sistem Kewaspadaan Dini
  • Penyelidikan Epidemiologi
  • Tata Laksana
  • Edukasi/Promosi Kesehatan

Fungsi Pendukung

a. Farmalkes & PKRT

  • Inventory Management
  • Supply demand mapping
  • Perizinan dan Monitoring Kepatuhan
  • Pelayanan dan Pengguna Obat

b. SDM Kesehatan

  • Pengelolaan Profil SDMK
  • Pemerataan dan Pemberdayaan SDMK
  • Peningkatan Kompetensi dan Pembinaan Karir

c. Pembiayaan Kesehatan

  • Analisis Akun Kesehatan
  • Analisis Dana Asuransi Kesehatan dan JKN
  • Kepersetaan Asuransi Kesehatan
  • Aduan Sistem Pembiayaan Kesehatan

d. Manajemen Internal

  • Operasional Internal
  • Perencanaan dan Anggaran
  • Monitoring dan Evaluasi

e. Bioteknologi

  • Pengembangan Bioteknologi
  • Pengelolaan Biobank

Metode-metode itu digunakan untuk landasan pada semua layanan yang ada. Tujuannya untuk bisa memetakan setiap proses bisnis dari masing-masing direktorat atau pelayanan.

Hal ini adalah karena pendekatan yang dilakukan sekarang bukan didasarkan pada aplikasi saja, namun juga dari layanan tersebut. Pemetaan proses bisnis pada setiap layanan yang dilakukan sebelumnya bisa digunakan untuk melihat keterkaitan antara satu proses bisnis dengan proses bisnis yang lain.

Platform Citizen Health dan Indonesia Health Services yang dibuat bakal dipetakan menurut 8 layanan yang sudah ada di Kementerian Kesehatan. Pada artikel sebelumnya di Mejadokter.com juga sudah menjelaskan tentang 8 layanan ini.

Kalau berdasarkan diagram value chain yang ada, platform itu terdiri dari 2 fungsi yaitu fungsi utama yang diisi dengan layanan primer, layanan sekunder dan ketahanan kesehatan serta fungsi pendukung yang diisi dengan farmalkes dan PKRT, SDM Kesehatan, Pembiayaan Kesehatan, Manajemen Internal dan Bioteknologi, Layanan yang berada di fungsi utama dipilih menurut proses bisnis yang sudah pasti terjadi pada kedua platform dan bisa menciptakan nilai ataupun manfaat untuk para penggunanya.

Sedangkan untuk layanan yang berada di fungsi pendukung dapat dipilih menurut proses bisnis yang bisa membantu untuk mencapai tujuan setiap proses bisnis pada fungsi utama.

Dengan begini, maka untuk data-data yang di generate oleh sistem informasi khas dan berbeda-beda pada tingkat organisasi yang bisa diintegrasikan dan dimanfaatkan pada tingkat kabupaten/kota, nasional dan global.

Arsitektur Data

Arsitektur data mengusahakan untuk adanya standardisasi data yang memungkinkan adanya integrasi aplikasi dan interoperabilitas data. Usaha tersebut mempunyai tujuan untuk mendorong data-data yang berasal dari sejumlah sistem informasi dan aplikasi bisa diintegrasikan dan dimanfaatkan oleh instansi tingkat kota/kabupaten, provinsi, nasional sampai dengan global.

Isu integrasi dan interoperabilitas data ini sudah diidentifikasi secara global. Sampai dengan sekarang, usaha untuk memecahkan tengah dilakukan dengan membuat kerangka standar yang memungkinkan adanya konsistensi dan interoperabilitas data.

Dua kerangka kerja yang populer diimplementasikan ke dalam lingkungan layanan kesehatan hingga menjadi Fast Healthcare Interoperability Resources (FHIR) dan OpenEHR.

FHIR dimaksimalkan untuk menyelesaikan masalah pertukaran data lewat penyediaan REST API yang mudah dan sederhana. Basis dari FHIR adalah dengan penggunaan resource yang bisa digunakan sebagai keperluan.

Biasanya untuk resource-resource ini dipergunakan untuk pertukaran informasi klinis seperti pertemuan (Encounter), rencana tata laksana (CarePlan), dan urutan diagnosis.

Sedangkan untuk implementasinya, pengguna FHIR bisa membangun basis data yang disesuaikan dengan kebutuhannya menggunakan kombinasi (bundle) dengan lebih dari 100 resource yang tersedia.

Pada sisi lainnya, OpenEHR dioptimasi agar bisa menyediakan platform data dengan fokus pada konsistensi data untuk fokus utama dengan API dan pertukaran data sebagai fokus kedua.

Kontras dengan FHIR yang menggunakan basis resource, OpenEHR menggunakan lebih dari 300 arketipe (Archetype) agar bisa menyediakan aset yang lengkap atas elemen data.

Hal ini tentu saja membuat OpenEHR punya tingkat kesulitan penggunaan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan FHIR.

Arsitektur data kesehatan ini mengadopsi kerangka kerja interoperabilitas data kesehatan FHIR. Kerangka kerja ini dipilih dengan  beberapa pertimbangan.

Adapun diantaranya adalah platform 'Satu Data Kesehatan' punya prioritas terkait dengan interoperabilitas data dari sejumlah sistem informasi layanan kesehatan.

Desain FHIR yang memiliki fokus pada REST API untuk pertukaran data merupakan pilihan terbaik untuk tujuan seperti ini. Lalu, platform Satu Data Kesehatan tidak dibuat untuk menggantikan sistem informasi yang sudah ada sehingga kerangka dari interoperabilitas data harus bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna.

Di dalam hal ini, penggunaan FHIR dengan basis resource dianggap lebih sederhana dan mudah untuk dikustomisasi daripada OpenEHR untuk tujuan pertukaran data.

Kemudian untuk FHIR punya komunitas pengguna yang lebih luas daripada OpenEHR, sehingga soal komunikasi data bisa dilakukan antar anggota komunitas yang lebih luas juga.

Malaysia, Filipina, Australia, dan Amerika Serikat menjadi sebagian negara yang sudah menggunakan acuan pada FHIR.

Arsitektur Satu Data Kesehatan diawali dari proses transaksi yang terjadi lewat dua platform utama, yaitu Citizen Health App dan Partner Systems.

Pada sisi usernya atau pasien, platform Citizen Health App bakal memberikan data electronic personal health record, baik pasien ataupun orang lain yang masih berada dalam 1 keluarga pasien.

Tujuan utama dari arsitektur Satu Data Kesehatan adalah agar bisa mengumpulkan data semua aktivitas medis ke dalam basis data berupa Electronic Medical Record dengan pusat di pulau-pulau data lainnya sebagai basis data pendukung.

Nantinya Electronic Medical Record yang berisi data rekam aktivitas layanan kesehatan seperti pemeriksaan, tindakan medikasi, dan prosedur klinis. Sedangkan untuk data pendukungnya punya fungsi agar mendukung konteks atas informasi layanan utama.

Bacaan Lainnya

Produk dan Layanan Kesehatan Bioteknologi yang ada di Indonesia
Teori
Produk dan Layanan Kesehatan Bioteknologi yang ada di Indonesia
Kondisi Layanan Ketahanan Kesehatan di Indonesia
Teori
Kondisi Layanan Ketahanan Kesehatan di Indonesia
Layanan Kesehatan di dalam Platform Indonesia Health Service
Teori
Layanan Kesehatan di dalam Platform Indonesia Health Service

Jadi tunggu apa lagi? Segera request akses Mejadokter.

  • Keamanan data sangat terjamin
  • Banyak fitur bermanfaat
  • Sangat mudah dioperasikan
mejadokter

Mejadokter adalah sebuah aplikasi klinik gratis untuk pencatatan history rekam medis pasien yang terintegrasi.