ARTIKEL

Ilmu Fisika Medis untuk Menghindari Radiasi Berbahaya

🕐 Baca 4 menit📅 16 November 2022 15:40

Fisika Medis merupakan cabang terapan ilmu fisika yang menggunakan prinsip, metode, dan filosofi fisika di dalam praktik dan penelitian untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Fisika Medis selanjutnya juga menjadi kelompok dalam sub-bidang atau spesialisasi, yaitu Fisika Radioterapi, Fisika Radiologi Diagnostik dan Intervensional serta Fisika Imajing Kedokteran Nuklir.

Bidang-bidang ini juga berhubungan reat dengan bidang ilmu lainnya, yaitu seperti biofisika, teknik biomedika dan fisika kesehatan.

FISIKAWAN MEDIK

Fisikawan Medik merupakan seorang individu profesional yang mempraktikan ilmu Fisika Medis. Untuk bisa menjadi seorang fisikawan medik harus melewati pendidikan dan pelatihan tersetruktur mengenai konsep dan teknik penerapan Fisika terutama di dalam bidang medis.

Fisikawan Medik bisa bekerja di institusi fasilitas pelayanan kesehatan, akademik, dan atau penelitian. Profesi ini juga dilindungi oleh undang-undang lho, terutama mereka fisikawan medik yang bekerja di lingkungan klinis. Mereka termasuk ke dalam tenaga kesehatan yang dilindungi oleh UU.

Tentu saja bagi mereka yang sudah menjalani pelatihan khusus dan pendidikan terstruktur di dalam konsep dan aplikasi klinis yang kompeten untuk berpraktik secara mandiri di sub-bidang (spesialisasi) fisika medis.

Kalau di Indonesia sendiri, profesi fisikawan medik bersatu dengan Aliansi Fisikawan Medik Indonesia atau Indonesia Association of Physicists in Medicine (AFISMI/IAPM).

Sebuah organisasi profesi yang telah resmi diakui oleh pemerintah dan tidak hanya menaungi fisikawan medik yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan saja, tetapi juga ada yang bekerja di dalam sektor lainnya, misal seperti akademik, riset dan pengujian alat kesehatan.

​Untuk menjadi anggota AFISMI, Anda harus melewati sejumlah langkah yang sudah ditentukan oleh organisasi.

APA ALASAN BUTUH FISIKA MEDIS?

Risiko untuk penggunaan alat medis tidak pernah dapat dipastikan, apalagi untuk peralatan yang menggunakan radiasi. Tetapi, lantaran risiko radiasi yang selalu datang bersamaan dengan manfaat, maka dari itu untuk pihak yang berkompetensi bisa meyakinkan bahwa radiasi yang ada tidak terlalu berbahaya dan memberikan manfaat lebih untuk pasien.

Hal ini berlaku baik untuk tujuan diagnosis ataupun terapi terhadap pasien. Selain itu untuk dampaknya juga bukan hanya terhadap pasien secara langsung lho ya, tetapi juga petugas kesehatan termasuk dokter dan perawat.

Ilmu fisika medis hadir untuk mengupayakan hal tersebut dengan cara melaksanakan dan mengembangkan metode penjaminan kualitas dari segi keamanan dan kelayakan peralatan radiasi medis secara utuh.

TUGAS DARI FISIKAWAN MEDIK

Tugas utama dari seorang fisikawan medik adalah mengupayakan segalanya untuk menekan risiko radiasi pasien, pekerja, lingkungan dan memastikan penggunaan radiasi lebih mendatangkan keuntungan daripada kerugian.

Sedangkan untuk secara umumnya, fisikawan medik akan melakukan beberapa hal di bawah ini:

a. Penyelesaian masalah soal penggunaan radiasi yang sudah masuk ke ranah klinis, tentu saja dengan pendekatan ilmiah

b. Pengukuran, estimasi dan perhitungan dari jumlah radiasi yang didapatkan oleh pasien dan staf medis dengan cara metode ilmiah

c. Memastikan bahwa semua peralatan medis yang bekerja sesuai dengan konsep fisika beroperasi dengan baik dan aman untuk pasien, staf, dan lingkungan. Fisikawan medik punya program dan keahlian khusus agar bisa memastikan hal tersebut secara berkala

d. Mengoptimalkan untuk penggunaan radiasi untuk pasien dan memastikan kembali kalau pasien menerima lebih banyak manfaat daripada efek samping yang merugikan

e. Memberikan edukasi serta konsultasi soal manfaat dan risiko dari radiasi serta besaran fisika lainnya untuk kolega atau sesama staf dan juga publik, termasuk pasien dan keluarganya

f. Penelitian dan inovasi soal metode dan peralatan yang terkait dengan besaran fisika di ranah medis yang kemudian seluruhnya punya tujuan akhir untuk melindungi pasien, staf dan lingkungan dari bahaya radiasi yang tidak bermanfaat

Kalau dari segi regulasinya, pelayanan seorang fisikawan medik di fasilitas layanan keshatan diatur dengan standar layanan oleh Menteri Kesehatan RI (Permenkes 83 Tahun 2015) dan Standar Profesi Fisikawan Medik (Kepmenkes no. HK.01.07/MENKES/322/2020).

RADIASI ALAT KESEHATAN

Setiap pasien berhak untuk mengetahui dan bertanya kritis soal informasi kadar paparan radiasi alat-alat medis terutama yang berteknologi nuklir dan digunakan di rumah sakit. Bahkan, walau radiasi dari alat-alat pemindai medis itu masih berada di dalam batas aman sekalipun.

Kalau dari aturan administratif di Indonesia menyepakati kalau paparan radiasi yang bisa dipergunakan, maksimal sebesar 1 millisievert per-tahun (0,5 mikrosievert per-jam). Sedangkan untuk para pekerja yang menggunakan alat-alat tersebut berada di ambang batas izin yaitu mencapai 50 milisievert per-tahunnya.

Pengetahuan soal jumlah paparan radiasi serta faktor risiko sesuai dengan kondisi dari tubuh pasien bakal menjadi pertimbangan pasien untuk apakah menyetujui penggunaan alat pemindai itu atau tidak.

Adapun alat yang dimaksud adalah misalnya seperti Computerized Tomography Scan (CT Scan) atau foto rontgen untuk mendiagnosa penyakit yang diderita. Pada prinsipnya, pemanfaatan teknologi nuklir harus jauh lebih besar jika dibandingkan dengan risikonya.

Foto rontgen yang menggunakan sinar X punya radiasi 0,1 milisievert. Sedangkan untuk CT Scan lebih besar, yaitu mencapai 10 milisievert oleh karena hasilnya lebih jelas dengan bentuk 3 dimensi.

Pemberian pemahaman terhadap pasien dibutuhkan sebagai bentuk dari kehati-hatian pengguna teknologi nuklir agar setiap langkah yang ditetapkan harus mengutamakan keamanan dari pasien itu sendiri.

Kemudian soal zat radioaktif, bisa mempunyai dampak klinis secara langsung pada tubuh manusia kalau paparannya sudah mencapai 500 milisievert dalam sekali papar. Dalam kondisi tersebut, terjadi perubahan posisi sel pada tubuh manusia.

Agus menjelaskan soal penggunaan teknologi CT Scan ataupun foto rontgen yang punya manfaat besar untuk memudahkan deteksi penyakit di dalam tubuh. Adapun diantaranya adalah seperti batu ginjal yang dapat dilihat secara visual tanpa melakukan operasi.

Kalau tidak menggunakan teknologi, operasi akan dilakukan untuk melihat dan kalau ditemukan batu ginjal, pasien akan dioperasi. Kalau tidak ada, maka operasi pengangkatan dibatalkan.

RADIASI SELAIN ALAT MEDIS

Hingga kini masih belum begitu jelas apakah radiasi alat elektronik bisa memicu terjadinya masalah serius pada penyakit. Tetapi perlu juga diketahui bahwa kecurigaan ini masih terus diteliti oleh para ahli.

Hal yang bisa Anda lakukan sementara ini adalah melakukan pencegahan supaya bisa terhindar dari penyakit berbahaya yang diakibatkan dari radiasi.

Adapun beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain seperti:

a. Membatasi penggunaan smartphone atau gadget lainnya dalam jangka waktu terlalu lama

b. Gunakan alat tambahan saat mendengarkan sesuatu ke telinga, misalnya dengan pemakaian headset/hands-free saat menelepon supaya smartphone tidak langsung menempel ke kulit kepala

c, Menjauhkan smartphone saat sedang mengunduh file atau streaming film

d. Meletakkan smartphone pada tas, menghindari peletakkan smartphone di saku celana. Perlu diketahui bahwa smartphone memancarkan radiasi elektromagnetik, walau Anda sedang tidak menggunakannya

Khusus untuk orangtua, jangan lupa untuk selalu memberikan pengawasan terhadap anak-anak dalam menggunakan smartphone. Hal yang biasanya paling penting adalah dengan mengurangi paparan radiasi smartphone pada anak dengan cara membatasi waktu bermain.

Di dalam hal ini, orangtua bisa mengatur waktu bermain smartphone ketika weekend saja agar menekan risiko kesehatan yang dapat terjadi pada anak.

Bacaan Lainnya

Tantangan Rekam Medis Elektronik di Indonesia
Teori
Tantangan Rekam Medis Elektronik di Indonesia
Diterbitkan: 12 October 2022 11:14
Jurusan Teknik Elektromedik yang Paling Besar Peluang Kerjanya
Teori
Jurusan Teknik Elektromedik yang Paling Besar Peluang Kerjanya
Diterbitkan: 18 November 2022 09:15
Ilmu Fisika Medis untuk Menghindari Radiasi Berbahaya
Teori
Ilmu Fisika Medis untuk Menghindari Radiasi Berbahaya
Diterbitkan: 16 November 2022 15:40

Jadi tunggu apa lagi? Segera request akses Mejadokter.

  • Keamanan data sangat terjamin
  • Banyak fitur bermanfaat
  • Sangat mudah dioperasikan
mejadokter

Mejadokter adalah sebuah aplikasi klinik gratis untuk pencatatan history rekam medis pasien yang terintegrasi.