ilustrasi halaman detail

ARTIKEL

Dampak dan Pencegahan Paparan Radiasi Pengion

🕐 Baca 5 menit📅 03 March 2023 06:06

Setiap hari, manusia alami terpapar radiasi, yaitu energi yang terpancar dari atom dalam bentuk partikel atau gelombang.

Sesuai dengan kemampuan dalam melakukan ionisasi, radiasi dapat dibagi menjadi radiasi pengion dan radiasi non-pengion.

Radiasi pengion bisa menimbulkan partikel bermuatan listrik yang disebut ion, sedangkan radiasi non-pengion tidak menyebabkan ionisasi.

Radiasi Pengion

Radiasi Pengion adalah radiasi yang dapat melepaskan elektron dari atom atau molekul sehingga mengionisasi atom atau molekul tersebut.

Radiasi Pengion terdiri dari partikel subatomik, ion, atau atom energetik yang bergerak dengan kecepatan tinggi (biasanya lebih besar dari 1% dari laju cahaya), serta gelombang elektromagnetik pada ujung energi tinggi dari spektrum elektromagnetik.

Radiasi Pengion merupakan gelombang elektromagnetik dan partikel bermuatan yang memiliki energi yang cukup untuk mengionisasi media lain. Ketika melewati bahan atau jaringan biologi, radiasi pengion dapat mengionisasi bahan atau sel jaringan.

Upaya Workshop tentang Radiasi Pengion

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) telah berupaya untuk melindungi pasien, petugas, dan masyarakat dari bahaya radiasi dengan melakukan pengawasan tenaga nuklir dalam bidang kesehatan.

Penggunaan radiasi yang berbahaya akan terjadi jika melebihi ambang batas yang telah ditentukan. Untuk itu, BAPETEN bersama International Atomic Energy Agency (IAEA) menggelar National Workshop on Justification and Optimization in Clinical Diagnostic Imaging of Patients.

Dalam kesempatan tersebut, Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir Yus Rusdian Akhmad membuka secara resmi workshop yang berlangsung selama lima hari.

Peserta workshop berasal dari sejumlah perwakilan Kemenkes, Badan Tenaga Nuklir dan Teknologi (BATAN), akademisi, asosiasi profesi, dan praktisi medik dari berbagai rumah sakit. Selain itu, beberapa pembicara dari IAEA, Inggris, Australia, dan Swedia juga turut hadir.

Tujuan utama dari workshop tersebut adalah untuk menumbuhkan kesadaran bahwa penggunaan radiasi pengion tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Walaupun radiasi yang diterima pasien memberikan manfaat, namun jumlah radiasi yang diberikan harus serendah mungkin.

Untuk itu, BAPETEN mengharapkan para praktisi medis di rumah sakit untuk lebih aware akan penggunaan radiasi. Hal ini sesuai dengan Program Prioritas 1 BAPETEN yaitu Penguatan Jaminan Perlindungan Keselamatan Pasien Radiologi.

Selama workshop berlangsung, agenda pada hari-hari pertama dan kedua diperuntukkan bagi praktisi medis kesehatan, hari ketiga dan keempat untuk regulator, dan hari kelima untuk para manager regulator khususnya BAPETEN.

BAPETEN pun sudah melakukan beberapa kegiatan untuk mendukung workshop ini seperti justifikasi dan optimisasi, serta program database si Intan yang turut menunjang implementasi optimisasi proteksi.

Radiasi Non-Pengion

Radiasi elektromagnetik yang memiliki energi foton di atas 10 eV diklasifikasikan sebagai radiasi pengion. Ini termasuk sinar gama, sinar X, dan sinar ultraviolet yang berada di bagian atas spektrum ultraviolet.

Molekul dan atom yang terkena radiasi ini terionisasi, yang berarti bahwa elektron terlepas dari inti atom. Di bawah 10 eV, radiasi elektromagnetik diklasifikasikan sebagai non-pengion, termasuk cahaya kasatmata, inframerah, gelombang mikro, dan gelombang radio.

Pada tingkat energi ini, molekul dan atom tidak terionisasi, meskipun mereka tetap terpengaruh oleh radiasi. Batas antara radiasi pengion dan non-pengion ini tidak ditentukan secara tajam.

a. Sinar X

Di bidang kesehatan, sinar-X merupakan salah satu cara untuk mendapatkan radiasi ionisasi. Radiasi ini diperoleh dari pembangkit tegangan tinggi yang disebut sinar-X.

Penggunaannya telah luas di bidang medis, seperti Instalasi Radiologi, Radioterapi dan Kedokteran Nuklir. Meskipun memiliki efek samping yang lebih besar dibandingkan dengan radiasi non ionisasi, sinar-X masih digunakan untuk berbagai tujuan diagnostik dan terapi.

Selain itu, sinar-X juga digunakan untuk melihat struktur internal tubuh seseorang, sehingga dapat dilakukan diagnosis yang akurat.

b. Sinar Gama

Radiasi elektromagnetik berenergi tinggi yang disebut sinar gama bisa diproduksi oleh proses radioaktif atau subatomik.

Hal ini terjadi saat partikel radioaktif memancarkan energi dalam bentuk gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi.

Sinar gama juga bisa terjadi saat pemecahan elektron-positron, yaitu saat proses antara partikel subatomik yang memancarkan energi dalam bentuk sinar gama. Sinar gama juga disimbolkan dengan huruf Yunani gama (γ).

c. Sinar Ultraviolet

Radiasi gelombang elektromagnetik yang berasal dari matahari, yang disebut sinar ultraviolet, tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

Namun, hewan seperti lebah, burung, dan kupu-kupu memiliki kemampuan untuk melihatnya dengan jelas. Meskipun demikian, tidak semua sinar UV dari matahari yang mencapai permukaan bumi.

Lapisan ozon menjadi penghalang untuk mencegah sinar UV tertentu untuk masuk ke bumi.

Partikel Sub-atomik Pengion

Partikel Pengion Subatomik yang berasal dari Radioaktivitas termasuk Partikel Alfa, Partikel Beta, dan Neutron. Energi Peluruhan Radioaktif yang kuat cukup untuk mengionisasi hampir semua produk peluruhannya.

Selain itu, ada beberapa partikel pengion subatomik lain yang muncul secara alami, seperti Muon, Meson, Positron, dan partikel lain yang membentuk Sinar Kosmik Sekunder ketika Sinar Kosmik Primer menabrak Atmosfer Bumi.

Bintang-bintang dan peristiwa luar angkasa seperti ledakan supernova menghasilkan sinar kosmik. Ini juga menghasilkan radioisotop di Bumi, seperti karbon-14, yang pada akhirnya melepaskan radiasi pengion.

Sinar kosmik dan radiasi pengion radioaktif yang dihasilkan oleh peluruhan radioisotop adalah sumber utama radiasi alami di Bumi yang disebut radiasi latar belakang.

Selain itu, radiasi pengion juga dapat dihasilkan dengan tabung sinar X, akselerator partikel, dan berbagai metode lain yang menghasilkan radioisotop secara buatan.

Mengukur Radiasi Pengion

Radiasi pengion adalah radiasi yang tidak dapat dideteksi oleh indera manusia. Untuk menunjukkan dan mengukur keberadaannya, instrumen pendeteksi radiasi seperti pencacah Geiger harus digunakan.

Intensitas tinggi dapat menyebabkan emisi cahaya kasatmata, seperti pada radiasi Cherenkov dan radioluminesensi. Radiasi pengion digunakan di berbagai bidang seperti kedokteran, daya nuklir, penelitian, manufaktur, dan konstruksi.

Meskipun demikian, radiasi pengion juga memiliki bahaya kesehatan jika tidak diambil tindakan yang tepat terhadap paparannya.

Paparan radiasi pengion menyebabkan kerusakan pada jaringan hidup, luka bakar radiasi, kerusakan sel, penyakit radiasi, kanker, dan bahkan kematian.

Paparan Radiasi untuk Tenaga Medis

Tidak ada pengetahuan medis yang pasti tentang apakah dampak buruk dapat terjadi ketika menerima paparan radiasi di bawah 100 mSv.

Namun, studi jangka panjang telah menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kanker pada orang yang menerima dosis radiasi kurang dari 100 mSv.

Oleh karena itu, sebagai salah satu tindakan pencegahan, batas paparan radiasi adalah 100 mSv dalam jangka waktu 5 tahun, dan 50 mSv dalam jangka waktu 1 tahun.

Selain itu, wanita (kecuali mereka yang didiagnosis tidak mungkin hamil) tidak boleh menerima lebih dari 5 mSv dalam jangka waktu 3 bulan, dan wanita hamil tidak boleh menerima lebih dari 1 mSv dalam jangka waktu tersebut.

Efek Terpapar Radiasi Pengion

Radiasi Pengion memiliki dua efek yang berbeda terhadap tubuh manusia. Efek yang pertama adalah efek stokastik. Ini tidak dapat dipastikan namun kemungkinannya dapat diperkirakan.

Efek ini terjadi ketika manusia terpapar radiasi dosis rendah (0,25 sampai 1.000 msv) dan dapat menyebabkan kanker, cacat pada keturunan, atau kerusakan sel-sel jaringan tubuh.

Tidak dikenalnya dosis ambang memungkinkan sekecil apa pun radiasi yang diterima tubuh dapat menimbulkan kerusakan sel somatik maupun sel genetik. Efek stokastik akan berlangsung lama setelah terjadinya penyinaran.

Sedangkan untuk dampak yang kedua adalah efek deterministik, yang berarti bahwa jika tubuh manusia terpapar radiasi dengan dosis tertentu, efeknya dapat dipastikan.

Efek ini dapat berupa kerusakan saluran pencernaan (dosis 10.000-50.000 msv), kerontokan rambut (6.000-12.000 msv), kulit memerah (3.000-6.000 msv), dan kerusakan sumsum tulang (3.000-5.000 msv).

Paparan radiasi pengion pada dosis 2-5 sv (2.000-5.000 msv) dapat menyebabkan kerusakan pada lensa mata, kemandulan permanen pada perempuan (3.000 msv) dan laki-laki (2.000 mSv).

Bahkan, dosis 1,1 sv atau 100 msv saja cukup untuk menyebabkan kemandulan sementara pada laki-laki.

Bacaan Lainnya

Inilah Ruangan yang Wajib ada di Klinik
Tips
Klinik
Inilah Ruangan yang Wajib ada di Klinik
Diterbitkan: 02 March 2023 16:24
Mengenal Profesi Pegawai Administrasi Rumah Sakit
Tips
Rumah Sakit
Mengenal Profesi Pegawai Administrasi Rumah Sakit
Diterbitkan: 16 February 2023 00:00
Dampak dan Pencegahan Paparan Radiasi Pengion
Tips
Teori
Dampak dan Pencegahan Paparan Radiasi Pengion
Diterbitkan: 03 March 2023 05:52
Jadi tunggu apa lagi? Segera request akses Mejadokter.
  • Keamanan data sangat terjamin
  • Banyak fitur bermanfaat
  • Sangat mudah dioperasikan
mejadokter

Rekam medis elektronik untuk Fasyankes, terintegrasi satusehat, bridging BPJS PCARE dan antrean online mobile JKN, akreditasi paripurna dengan mejadokter