
Banyak dokter dan nakes yang udah denger soal SKP tapi masih bingung cara pakainya. Platform udah ada, login bisa, tapi pas masuk dashboard langsung blank ā harus ngapain dulu?
Artikel ini bakal jelasin step-by-step cara pakai SKP Platform, khususnya buat input Ranah B (Pelayanan) yang sering ketinggalan dan paling bersinggungan dengan rekam medis elektronik.
ā ļø Catatan Penting: Tutorial ini berdasarkan tampilan SKP Platform per Desember 2025. Tampilan dan fitur platform bisa berubah sewaktu-waktu sesuai update dari Kemenkes. Kalau ada perbedaan dengan kondisi terkini, silakan cek langsung ke website resmi atau hubungi helpdesk SATUSEHAT.

Kenalan Dulu Sama Dashboard SKP
Pertama kali login ke SKP Platform (satusehat.kemkes.go.id/sdmk), kamu bakal liat dashboard kayak gini:
Yang penting dipahami ā ada 3 ranah dengan proporsi minimal:
Sisanya 15% bebas mau diisi dari ranah mana aja.
Nah, yang sering jadi masalah itu Ranah B. Banyak yang progress-nya masih merah karena emang harus input manual. Gak otomatis kayak Ranah A yang sync dari Plataran Sehat.
Memahami Status SKP Kamu

Di dashboard, kamu bisa liat status capaian:
Contoh kasus: total SKP 68.25 dari 100, tapi status masih "Kurang" karena Ranah B baru 21.43% (7.50 SKP) dari minimal 35% (35 SKP). Meskipun total udah lumayan, komposisinya belum balance.
Jadi jangan cuma lihat angka total. Pastiin tiap ranah udah hijau semua.
Jenis Kegiatan Ranah B (Pelayanan)
Klik menu Formulir Pengisian di sidebar, kamu bakal liat daftar kegiatan yang bisa diinput untuk Ranah B:

Pilih yang sesuai sama kegiatan praktik kamu sehari-hari. Kalau dokter umum di klinik pratama, yang paling relevan biasanya nomor 3 (Pemeriksaan/Diagnosis), nomor 4 (Lab), atau nomor 5 (Tindakan).
Cara Input SKP Ranah B: Step by Step
Oke, sekarang praktiknya. Misal kamu mau input kegiatan "Pemeriksaan/Diagnosis":
Step 1: Klik tombol INPUT di sebelah kanan jenis kegiatan
Step 2: Isi form yang muncul:
Step 3: Klik Simpan
Selesai. Kegiatan kamu masuk ke Buku Log dan nunggu verifikasi ada di menu sidebar sebelah kiri webpagenya.
Dokumen Bukti: Ini yang Sering Bikin Bingung
Format yang diterima cuma PDF dengan ukuran maksimal 250 KB.
Isinya apa? Rekapitulasi pelayanan yang udah ditandatangani atasan atau kepala faskes. Gak perlu fancy ā yang penting ada:
Masalahnya, bikin rekap ini manual itu ribet. Harus buka catatan, hitung satu-satu, bikin dokumennya, minta tanda tangan. Makanya banyak yang nunda-nunda sampai akhirnya ketinggalan.
Mejadokter Bisa Bantu Rekap Otomatis
Nah kalau klinik kamu pakai Mejadokter, data pelayanan udah kerekap otomatis di sistem.
Mau tau bulan ini kamu nangani berapa pasien konsultasi? Tinggal filter. Berapa kali tindakan pemeriksaan, injeksi, atau lab? Ada semua. Periodenya juga bisa diatur ā mau bulanan, triwulan, atau tahunan.
Yang lebih praktis lagi: Mejadokter udah sediain fitur download PDF rekap pelayanan yang formatnya sesuai kebutuhan dokumen bukti SKP. Jadi gak perlu bikin dokumen dari nol ā tinggal download, minta tanda tangan kepala faskes, compress kalau perlu, terus upload ke SKP Platform.
Proses yang biasanya makan waktu berjam-jam jadi cuma hitungan menit.
Tapi ingat ya, garbage-in garbage-out, gunakan aplikasinya dengan secara maksimal tiap operasional sehari-hari jadi data yang masuk bagus, dan laporan akhir tentunya juga optimal, kalau bingung sama flow penggunaan aplikasinya, helpdesk mejadokter punya reputasi response time yang kurang ajar cepatnya!
Tips Biar SKP Cepat Tercukupi
Beberapa tips dari pengalaman lapangan:
Input rutin tiap bulan. Jangan numpuk sampai akhir periode. Selain ribet, bukti pendukungnya juga makin susah dicari.
Manfaatin semua ranah. Ranah C (Pengabdian) kadang lebih gampang dapat ā ikut baksos sekali bisa dapat beberapa SKP.
Cek kecukupan berkala. Jangan tunggu SIP mau expired baru panik. Verifikasi bisa makan waktu 3-6 bulan.
Simpan bukti dengan rapi. Scan atau foto dokumen pendukung, simpen di folder khusus. Kalau ada masalah verifikasi, gampang dicari.
Penutup
SKP Platform sebenernya gak ribet kalau udah paham alurnya. Yang bikin males itu proses bikin rekap manual tiap bulan.
Solusinya? Pakai sistem yang dari awal udah nyimpen data pelayanan dengan terstruktur ā dan idealnya udah sediain format laporan yang siap upload. Jadi pas butuh dokumen buat SKP, tinggal download dan tanda tangan. Gak perlu bongkar-bongkar catatan lagi.
Semoga panduan ini membantu. Kalau ada pertanyaan soal teknis input SKP atau integrasi dengan sistem klinik, boleh langsung kontak tim Mejadokter.
Rekam medis elektronik untuk Fasyankes, terintegrasi satusehat, bridging BPJS PCARE dan antrean online mobile JKN, akreditasi paripurna dengan mejadokter